Beranda Index Menghapus Paradigma Gelombang Nasionalis Musiman

Menghapus Paradigma Gelombang Nasionalis Musiman

0
ils

Oleh: Adam Alvian, Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Pamulang.

 

Di tengah arus dunia suatu istilah yang bernama konflik tidaklah lepas dari berjalannya suatu Negara, tak kala seperti yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini. Fenomena-fenomena sosial ini menguras banyak konsentrasi dan pengaruhnya terhadap masyarakat luas, jelas itu memang sudah kewajiban bersama dalam menanggulanginya. Dari mulai kasus pemerkosaan, pelecehan sexsual, kemanusiaan, hingga sengketa wilayah di perbatasan.

Namun yang terjadi pasca fenomena ini ialah bagai saling lempar tanggung jawab, baik dalam jajaran pemerintahan, akademisi sampai cendikiawan-cendikiawan muda, yang pada akhirnya lagi-lagi hanya isu dan isu yang terlempar dikalangan masyarakat, ataupun ada yang hanya sekedar mengambil moment demi keuntungan satu pihak. Entah apalagi ini namun nyatanya terjadi, tidaklah perlu kiranya dalam tulisan ini harus memaparkan satu persatu, mari berusaha berfikir dan mencari sudut pandang yang pas demi sebuah gagasan akan itu semua.

Menyoroti satu konflik tentang kedaulatan kita antara Indonesia dan Cina di wilayah perairan Natuna Indonesia, Cina yang secara sepihak mengaku bahwa perairan itu ialah wilayah Tradisonal Fishingnya, bila merujuk pada United Nation Convention on The Law of The Sea (UNCLOS) pada tahun 1982 Menteri Kelautan dan Perikanan Sri Puji Astuti Mengatakan dalam konfrensi pers(21/6) di kantor Kementrian Kelautan dan Perikanan, bahwa “Kami tidak mengetahui dan tidak mengakui traditional fishing zone siapapun di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, kecuali di satu wilayah yang telah kita tandatangani bersama di Selat Malaka dengan pemerintah Malaysia”.

Segala bentuk gagasan untuk menyelesaikan sengketa wilayah tersebut dan menjaga kelautan NKRI bermunculan secara diplomasi dan strategi kemiliteran, yang mana kemudian menjadi rahasia public saat ini antara yang mencetuskan gagasan-gagasan tersebut malah merembet serta menimbulkan gejolak di internal.

Pertarungan gagasan memang wajar terjadi namun mengapa pemimpin barulah menggebu-gebu mengeluarkan gagasan dikala konflik telah terjadi, tak pernahkah mendengar pepatah “Sedia Payung sebelum hujan” entahlah. Rasa peduli terhadap kedaulatan dan keutuhan negara barulah muncul seketika negara ini dilanda oleh kejadian-kejadian seperti ini.

Hal ini pula yang menjadi paradigma masyarakat terkait jiwa Nasionalis, ya’ nasionalis musiman pula yang akhirnya telah terbentuk dalam masyarakat, entahlah apakah memang kurangnya informasi terhadap paham kebangsaan ini ataukah memang telah menjadi secara tradisi turun-temurun, harkat martabat suatu negara haruslah dijaga oleh seluruh elemen masyarakat, Sang pemimpin besar revolusi kita pun turut mengahaturkan tentang Nasionalisme “Membangun-bangunkan dalam hati-sanubari sesama bangsa Indonesia cinta pada tanah air.” Oleh karena itu tiada perceraian, tetapi maju ke arah PERSATUAN.

Memposisikannya sebagai ilmu pengetahuan pada era post modern ini yang perlu ditekankan kembali, tidaklah perlu rakyat mengenyam gaya hidup dan membanggakan kebarat-baratan sedangkan negeri sendiri sudah memberikan apa yang diperlukan oleh rakyat. Ingat! jiwa Nasionalis kita bukan nasionalis barat! Nasionalis kita Nasionalis Ke Timuran, Nasional kita bukan Nasionalis Musiman! Jiwa Nasionalis kita mengakar di setiap badan rakyat Indonesia! Tak kala bila ini terus disuarakan semangat ke arah persatuan, semangat senantiasa cinta pada tanar air akan menggebu-gebu dalam kehidupan dan akan sangat kecil kemungkinan negara-negara lain menggagu kedaulatan Indonesia.

Inilah yang perlu dijaga lalu mengimplementasikannya sebagai buah pikir dari setiap rakyat Indonesia, Negeri ini adalah tanggung jawab bersama, negeri ini adalah anugerah yang diberikan Tuhan yang maha Esa untuk segenap manusia didalamnya, sejalan dengan itu tiap jengkal dari setiap langkah yang kita ayunkan adalah sebuah perjuangan, sebuah semangat menjaga tanah air, semangat akan persatuan, semangat akan menjaga kedaulatan Indonesia. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini