Home Home Membandelnya Bisnis Esek-esek

Membandelnya Bisnis Esek-esek

1

Oleh: Arif Wahyudi, ME., AK., CA. – Dosen Pendidikan Anti Korupsi PKN STAN*)

Whatever Government choose to do or not to do in response to a problem is Policy – Dye

Pada kepemimpinan periode pertama, Walikota Tangerang Selatan memasukkan kata relijius dalam pernyataan visinya. Namun, karena meyakini pembangunan relijiusitas sudah tuntas, maka pernyataan visi pada kepemimpinan periode kedua tidak mencantumkan kata relijius. Di sisi lain, CEMOR (Cerdas Modern Relijius) masih menjadi slogan di berbagai foto “selfie” warga Tangerang Selatan.

Pelacuran atau sering dibahasakan sebagai bisnis esek-esek adalah bagian kehidupan yang jauh dari relijiusitas. Menjadi ironi ketika pembangunan relijiusitas dinyatakan sudah tuntas, namun bisnis esek-esek masih marak di Tangerang Selatan. Sebegitu marak, aman, dan mudahnya akses, sehingga ada yang menyebut Tangerang Selatan sebagai “Surganya Bisnis Esek-Esek”. Sekali lagi ini ironi kota kita.
Tulisan ini menyajikan kumpulan berita tentang bisnis esek-esek dan tindakan-tindakan aparat Pemda Tangerang Selatan. Pola tindakan aparat dan dampaknya akan disimpulkan, untuk menjadi bahan refleksi Pimpinan Daerah Kota Tangerang Selatan.

Panti Pijat di Kawasan BSD

Di bulan Oktober 2016, media memberitakan Kawasan Elit BSD Jadi Surga Bisnis Esek-Esek Kelas Atas. Selanjutnya puluhan panti pijat di kawasan Ruko Golden Madrid dirazia, dan tiga di antaranya terbukti terapisnya melakukan perbuatan a-susila. Ketiga Panti Pijat tersebut adalah Jupiter Massage, Blow Art dan Bravo. Di bulan November 2016, salah satu Panti Pijat itu tetap buka, dengan menutupi plang DISEGEL dengan kertas yang ditulisi BUKA. Wakil Walikota yang melakukan sidak memerintahkan untuk kembali menyegel. Penggerebekan sudah beberapa kali dilakukan, (lima kali dalam dua tahun terakhir) namun Panti Pjiat tetap buka kembali setelah disegel. Di bulan Maret 2017, ketiga Panti Pijat tersebut masih buka, bahkan masuk dalam sepuluh SPA terbaik di Tangerang Selatan.

Langkah Satpol PP menyegel Jupiter diprotes keras Pengelolanya. “Ada 35 Panti Pijat di kawasan Ruko Golden Madrid yang memiliki konsep yang sama dengan Jupiter. Mengapa hanya Jupiter yang disegel? Satpol PP tebang pilih”, protesnya. Protes ini menyingkap gunung es bisnis esek-esek di kawasan tersebut.

Apartemen Green View Lake Ciputat

Apartemen ini disamping disewakan tahunan, bulanan, mingguan, juga disewakan harian. Sewa harian yang relatif murah, membuka celah untuk dipergunakan bisnis esek-esek. Pada Bulan Mei 2017 petugas gabungan melakukan operasi justisi di apartemen ini salah satunya untuk mengidentifikasi kemungkinan praktek mesum atau kumpul kebo. Pertengahan Oktober 2017, apartemen ini kembali di razia karena banyaknya laporan dugaan kegiatan mesum dan narkoba. Razia menemukan penghuni yang positif narkoba, dan beberapa belas pasangan mesum.

Apartemenini disinyalir telah berfungsi menjadi hotel dengan sewa harian. Belum terpantau tindakan Pemkot pasca operasi tersebut.
Indekos Mesum Pondok Pucung Pondok Aren
Maret 2016 dilakukan operasi oleh Satpol PP terhadap Indekos di kawasan Pondok Pucung Pondok Aren. Berdasarkan laporan masyarakat, Indekos tersebut juga disewakan jam-jaman, baik siang mau pun malam. Operasi dilakukan siang hari, dan sukses mengamankan beberapa pria dan wanita, di antaranya tertangkap basah sedang melakukan kegiatan mesum.

Lain-lain Tempat

Selain Panti Pijat, Apartemen, dan Indekos, bisnis esek-esek juga terpantau dilakukan di Kafe, Salon, dan pinggiran jalan. Namun, yang berbeda dengan Kota Tangerang misalnya, tidak ada berita razia di hotel-hotel Tangerang Selatan. Di Kota Tangerang, Satpol PP nya sering diberitakan merazia praktek mesum di hotel, misalnya Hotel Anggrek di Jalan Otista, dan Hotel Tangerang di Jalan Daan Mogot. Tidak tersentuhnya Hotel Venesia misalnya mengundang protes dari pengusaha bisnis hiburan lainnya yang barang dagangannya (minuman keras) dirazia Satpol PP. Padahal, menurutnya Venesia juga menyediakan aneka hiburan termasuk minuman keras.

Refleksi

Bisnis esek-esek dan teman-temannya seperti minuman keras, judi dan narkoba adalah bisnis yang jauh dari relijiusitas. Saat ini bisnis tersebut ditemukan di rumah indekos, apartemen, panti pijat, salon, kafe, hingga jalanan. Hotel di Tangsel ditengarai juga menyelenggarakan bisnis tersebut.

Adanya protes terhadap Sapol PP yang tebang pilih baik dalam kasus panti pijat mau pun hotel perlu direspons dengan razia intensif terhadap semua panti pijat dan fasilitas bisnis esek-esek lainnya. Penindakan terhadap hotel yang melakukan pelanggaran Perda harus dilakukan untuk memberikan keadilan (perlakuan yang sama) bagi pelaku yang dirazia. Siklus “laporan masyarakat-razia-segel-buka kembali” agar diakhiri. Ketegasan menegakkan Perda dan penjagaan terhadap relijiusitas yang diklaim sudah tuntas pada di periode pertama harus ditunjukkan dengan serius untuk menjaga marwah Walikota Tangerang Selatan.

Apabila, masih banyak fenomena dibukakembalinya bisnis esek-esek setelah disegel, masih banyaknya bisnis esek-esek yang dibiarkan beroperasi, masih diskriminatifnya perlakuan terhadap hotel yang melanggar Perda, maka seperti Thomas Dye katakan itu adalah kebijakan yang dipilih oleh Pemerintah Kota Tangerang Selatan. Lalu apa justifikasi urusan relijiusitas sudah tuntas?

*) pendapat pribadi

1 COMMENT

  1. Bisnis esek2 atau yang dikenal sbg bisnis “lendir” didominasi oleh para pengusaha bermata “sipit” atau warga keturunan sepertinya harus ada gerakan masyarakat utk menolak bisnis itu yg konon perpindahan dari DKI Jakarta yg pemerintahnya sdh menolak bisnis itu ada dikota Jkt,saatnya Pemerintah dan masyarakat juga menolaknya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here