Home Berita Dr Farish Noor: Saatnya Peneliti Indonesia Terapkan Penelitian Yang Outward Looking

Dr Farish Noor: Saatnya Peneliti Indonesia Terapkan Penelitian Yang Outward Looking

0

Universitas Muhamadiyah Jakarta ( UMJ) bekerjasama dengan Rajaratnam School of International Studies (RSIS) Nanyang Technology University (NTU) Singapura menggelar kuliah umum (stadium general) di Gedung FISIP UMJ, Tangerang Selatan, Rabu (14/11/2017).

Kuliah umum ini mengangkat tema “Kehadiran Amerika Serikat di Asia Tenggara.” ini dibuka Wakil Rektor 1 UMJ, Dr Kahar Maranjaya dan di hadiri Dekan FISIP UMJ, Dr Endang Sulastri, Wakil Dekan I FISIP UMJ Dr Ma’mun Murod Al-Barbasy dan Wakil Dekan II Dr Evi Satispi, Kaprodi Ilmu Politik Lusi Andriyani, S.IP, M.Si, para Kaprodi, para dosen dan ratusan mahasisiwa FISIP UMJ.

Dr Farish Noor dari Rajaratnam School of International Studies (RSIS) Nanyang Technology University (NTU) Singapura dalam kuliah umum tersebut mengatakan, Indonesia merupakan salah satu negara di Asia Tenggara yang memiliki sumber daya pendidikan yang kaya.

Hal itu dibuktikan dengan adanya ribuan peneliti dan perguruan tinggi yang tersebar di seluruh tanah air.
Namun, katanya, kebanyakan peneliti di Indonesia masih senang meneliti tentang persoalan sosial, politik, dan agama yang berkembang di Indonesia.

Menurut Farish Noor, yang juga Direktur Program Doktor di NTU ini, kecenderungan untuk meneliti persoalan sosial dan politik di negara sendiri tersebut bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di seluruh negara-negara Asia Tenggara.

Padahal, lanjutnya, penelitian lintas bangsa dan negara tersebut sangat dibutuhkan untuk menjalin kerjasama ilmiah antar perguruan tinggi di tingkat ASEAN. Apalagi, kata Farish, kini negara-negara Asia Tenggara telah memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang memungkinkan pergerakan barang dan manusia tanpa hambatan.

“Maka, agar kebijakan MEA bisa berjalan dengan lancar dan tidak menimbulkan dampak negatif, sangat dibutuhkan pemahaman dan pengetahuan yang baik tentang masyarakat negara-negara ASEAN ,” ujarnya dihadapan peserta stadium general.

Dikatakan Farish Noor, selama ini masyarakat akademis di negara-negara ASEAN hanya mengandalkan pengetahuan sejarah sosial dan politik Asia Tenggara dari buku-buku yang ditulis orang-orang Barat dari Amerika Serikat dan Eropa. Akibatnya, banyak informasi yang sering tidak bisa lepas dari bias kolonialisme.

“Sudah saatnya kini para peneliti di Indonesia untuk menerapkan paradigma penelitian yang outward looking, yang memproduksi pengetahuan sendiri tentang masyarakat Asia Tenggara,” kata Farish.

Dalam kuliah umum tersebut, Farish Noor juga memaparkan karya mutakhirnya tentang kehadiran Amerika Serikat di Asia Tenggara pada abad ke-19 dan dampak kolonialisme bagi perkembangan sosial dan politik masyarakat Indonesia, khususnya, dan ASEAN pada umumnya. (Mrz)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here